Ponsel+Narsis = Ledakan Big Data

http://images.detik.com/content/2014/05/06/319/a.jpg
Perkembangan teknologi mempunyai efek domino yang dahsyat. Ketika ada satu atau dua hal yang melesat maka bakal berpengaruh signifikan terhadap hal lainnya.

Fenomena inilah yang terjadi terhadap lalu lintas data di dunia digital. Melonjaknya penggunaan ponsel dan kebiasaan pengguna yang suka pamer diri alias narsis, sedikit banyak berkontribusi terhadap terjadinya ledakan erabig data.

Jeremy Burton, President Products & Marketing EMC mengambil contoh dari fenomena ini dalam kehidupannya sendiri. Ia bercerita, beberapa waktu lalu pernah mendapat musibah kecelakaan mobil. Beruntung tak ada korban jiwa pada kecelakaan itu, hanya saja mobil Audi yang dikendarainya penyok di sejumlah bagian.

Bagi ‘orang biasa’, lanjut Jeremy, setelah tertimpa musibah seperti itu harusnya jadi bermuram durja. Namun sebaliknya, mobil korban kecelakaan tersebut malah ‘diabadikan’ Jeremy dengan berbagai angle. Selanjutnya bisa ditebak, langsung diposting di media sosial.

Untuk menegaskan eksistensinya, Jeremy pun mengotak-atik sosial media lainnya, Uber. Di sini, ia mencari tahu siapa rekannya yang berada di lokasi terdekat terjadinya kecelakaan, untuk kemudian minta dijemput. 

Apa selesai sampai di situ? Tidak! Selanjutnya, Jeremy sekalian melaporkan kejadian kecelakaan yang baru saja menimpanya ke pihak asuransi. Namun tak ada pakai acara datang ke kantor asuransi.

Semua proses pelaporan asuransi kecelakaan dia lakukan via ponsel. Mulai dari melaporkan merek dan tipe mobilnya, tempat kejadian sampai kerusakan apa saja yang telah terjadi.
“Inilah kira-kira gambaran pengguna gadget saat ini,” kata Jeremy dalam acara EMC World Conference 2014 yang berlangsung di Las Vegas, Amerika Serikat.

Dari ceritanya itu, Jeremy sekaligus ingin menegaskan bahwa ini adalah salah satu aktivitas pengguna gadget yang kerap kali terjerembab dalam perangkat genggam dan kenarsisannya.

Ini baru satu kejadian, bagaimana dengan kejadian lain dan menyeret jutaan atau miliaran pengguna ponsel di seluruh dunia?

Di balik kejadian kecelakaannya pula, eksekutif EMC ini ingin mengingatkan bahwa fenomena makin merakyatnya ponsel, sosial media dan segala aktivitas ‘aktualisasi diri’ bakal berdampak besar pada trafik data yang beredar.

Nah, pertanyaan yang kemudian muncul adalah, apakah perusahaan sudah siap untuk mengadapi ledakan data tersebut?

Joe Tucci, Chairman & CEO EMC menambahkan, peredaran jumlah data di dunia digital telah meningkat dua kali lipat setiap dua tahun dan mungkin dapat bertambah 10 kali lipat antara tahun 2013 sampai 2020 — dari 4,4 zettabyte menjadi 44 zettabyte atau setara dengan 44 triliun gigabyte!

“Banyak hal yang mendukung perubahan ini, dari sisi sumber daya, ada peningkatan signifikan dari 28 juta IT profesional pada tahun 2013 menjadi 36 juta IT porfesional pada tahun 2020. Otomatis SDM TI ini akan berpengaruh dengan lebih besar dalam mengkonsumsi data,” lanjutnya, dalam kesempatan yang sama.

Tucci sendiri menyebut ada 4 faktor yang berperan dalam perkembangan platform generasi ketiga, yaitu perangkat genggam, cloud computing, big data, dan sosial media. Keempat hal ini pun diyakini akan memegang peranan penting dalam masa dapan trafik data dan storage.

Sementara David Goulden, CEO EMC Information Infrastructure menambahkan, transformasi IT dipengaruhi oleh miliaran gadget, miiaran pengguna, dan jutaan aplikasi.

“Tidak ada satu industri atau organisasi manapun yang akan bertahan dari yang namanya perubahan,” pungkasnya.
Regard

Rismawan Junandia