Gara-gara Zuckerberg, Iran Haramkan WhatsApp

http://images.detik.com/content/2014/05/06/398/wa460.jpg
Selepas akuisisi yang dilakukan Facebook, WhatsApp mendapatkan rintangan pertamanya di Iran. Negara timur tengah ini mengeluarkan aturan yang mengharamkan akses WhatsApp di wilayahnya.

Komite kriminal dan internet Iran sebagai pengagas regulasi itu mengatakan, alasan pemblokiran yang dilakukan di negaranya adalah karena WhatsApp saat ini telah dimiliki Facebook. 

Anggota komite berasumsi WhatsApp yang dimiliki oleh perusahaan Mark Zuckerberg yang masih keturunan Yahudi ini memiliki potensi untuk mencuri informasi dari pengguna yang berada di Iran.

“Alasan untuk ini adalah asumsi dari WhatsApp (yang kini dimiliki) oleh pendiri Facebook, Mark Zuckerberg,” ujar salah satu anggota komite tersebut, kutip dari Phone Arena, Senin (5/52014).

Hal semacam ini bukanlah yang pertama dilakukan oleh Iran. WeChat yang merupakan layanan pesan instan asal Tiongkok telah lebih dulu diblokir di Iran.

Negara pimpinan Hassan Rouhani ini memang dikenal cukup ketat soal aturan internet, salah satunya adalah aturan bertajuk Halal Net yang mengharuskan konten internet di Iran untuk memiliki sertifikat halal.
Regard

Rismawan Junandia

Snapchat Perkuat Amunisi Video Chat

http://images.detik.com/content/2014/05/06/319/snapchat.jpg
Snapchat diam-diam mengakuisisi AddLive yang dikenal sebagai penyedia layanan video streaming untuk browser, iOS, dan Android. Akuisisi ini jelas untuk memoles fitur video chat yang baru saja dirilisnya.

 The Verge, Selasa (6/5/2014), Snapchat memang sudah mengkonfirmasi akuisisi ini, namun masih enggan mengumumkan besarnya nilai pembelian tersebut. 

Sumber terpercaya mengklaim kesepakatan dengan Addlive sejatinya sudah terjadi beberapa bulan sebelum Snapchat mengumumkan dua fitur barunya pekan lalu, yakni instant messaging dan video chat. 

Fitur baru dari aplikasi video chat ini memungkinkan pengguna Snapchat mengetahui kerabatnya yang sedang online dan bisa langsung melakukan percakapan. 

Pamor Snapchat belakangan melesat setelah masuk dalam daftar top 10 aplikasi yang paling banyak di-download tahun lalu dan sempat bikin heboh awal tahun ini karena banyak data penggunanya yang bocor ke publik.
Regard

Rismawan Junandia

Layanan Awan EMC ‘Hantui’ Google & Amazon

http://images.detik.com/content/2014/05/06/319/unnameddalam.jpg
Bisnis cloud storage semakin sengit. Para pemain di bisnis ini tak lagi sungkan untuk ‘menyerang’ kompetitor untuk menegaskan keunggulannya.

Seperti yang dilakukan EMC. Dalam ajang EMC World Conference 2014 yang berlangsung di Las Vegas, Amerika Serikat 4-8 Mei, mereka merilis layanan yang disebut sebagai Elastic Cloud Storage (ELC) Appliance.

Ini merupakan hyper scale storage system untuk kalangan enterprise yang sebelumnya disebut dengan proyek ‘Nile’.

Tak segan-segan, EMC menyebut layanan ECS andalannya jauh lebih murah dibandingkan cloud storage service milik Amazon ataupun Google. Namun dari sisi kualitas dan performa masih lebih baik.

Perusahaan yang berbasis di Hopkinton, Masschussets ini menyebut, ECS Appliance sangat mudah untuk digunakan sebagai public cloud storage dan mampu meng-handle data dalam jumlah besar layaknya layanan cloud besar.

Setiap single rack ECS Appliance diklaim dapat mengakomodir data hingga 2,9 petabyte. Bahkan jika dioptimalkan lebih lanjut, data yang bisa ditangani bisa tembus skala exabyte.